Ponpes Wali Barokah Binaan LDII Kediri Mulai Kembangkan PLTS

Ponpes Wali Barokah Binaan LDII Kediri Kembangkan PLTS

Big Abadi – Memanfaatkan anugerah alam yang diberikan, Pondok Pesantren Pusat dibawah binaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kawasan Pondok Pesantren Wali Barokah, Burengan, Kediri, Jawa Timur.

Instalasi PLTS yang dibangun di Ponpes Wali Barokah berukuran 40 m x 41 m dengan 640 panel kelas premium buatan Kanada. Investasinya mencapai Rp 10 Miliar.

Ketua DPP LDII, Prasetyo Sunaryo mengatakan, alasan utama pengembangan PLTS di lingkungan pondok lantaran selama ini penerangan pondok pesantren masih bergantung perusahaan listrik negara (PLN).

Akibatnya beban biaya terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik.

“Menyikapi hal tersebut DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS. Sebagai tahap awal dibangun di Ponpes Wali Barokah Kediri,” kata Prasetyo lewat keterangan resminya, Minggu (26/5/2019).

Pengembangan PLTS terbesar di Indonesia untuk ponpes ini, menurut Prasetyo, termasuk penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang LDII.

“Pembangunan PLTS ponpes sebesar ini, tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja. Dalam pendayagunaan EBT, komparasinya bukan saja terhadap harga BBM, melainkan harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan BBM. Ini yang menjadi pemahaman LDII,” tambah Prasetyo.

“Selain energi matahari tersedia sepanjang tahun, dari perspektif religious, pemanfaatan energi matahari merupakan manifestasi kesyukuran kepada Allah yang telah memberi karunia Indonesia dengan sinar matahari yang tak ternilai harganya,” imbuhnya.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Wali Barokah, KH Soenarto, mengaku bersyukur atas anugerah Allah berupa sinar matahari sehingga menjadi energi listrik untuk menerangi pondoknya.

Ada penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan.

“Ke depan, ponpes ini dapat sebagai tujuan wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Ini menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.

Menurut pakar PLTS, Horisworo, dengan pertimbangan perolehan manfaat jangka panjang, maka dana yang dikumpulkan secara gotong royong dari warga LDII tersebut dibelikan panel surya (Solar Cell) premium grade.

“Harganya, termasuk peralatan penunjangnya, mencapai Rp.10,1 Miliar. Namun yang perlu dipahami, mahalnya itu di depan saja. Dengan adanya garansi produsen 25 tahun, maka jatuhnya malah lebih efisien,” kata Horisworo yang juga alumni Pondok Pesantren Wali Barokah ini.

Bantuan NASA

PLTS Ponpes Wali Barokah akan menghasilkan maksimal 1 juta Watt. Saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan ponpes dengan 5000-an santri tersebut sudah terpenuhi dan masih ada banyak kelebihan.

Penerangan ponpes yang terletak di tengah Kota Kediri tersebut sudah sangat bagus. Hal ini membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktivitas.

“Prinsipnya Ponpes Wali Barokah bersama LDII sudah mempraktekkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT. Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, dan kami sudah menabung, sudah berinvestasi untuk mandiri energi dengan memanfaatkan karunia Allah. Kami serius membangunnya, sampai dalam pemilihan titik dimana intensitas sinar matahari terbesar, kami minta bantuan satelit NASA. Ya di gedung inilah, sinar matahari berintensitas tertinggi (dibandingkan beberapa gedung di ponpes),” papar Horisworo.

Saat ini warga Kota Bandung tersebut sudah merencanakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa (PLTBM) dengan memanfaatkan sampah harian dari warga ponpes yang berjumlah ribuan orang.

“Dari sampah atau suatu yang dibuang, kita bisa manfaatkan menjadi energi. Berbekal pengalaman pembuatan PLTMB di Bandung, saya berkeinginan dapat menghadirkannya di Ponpes Wali Barokah. Potensi sampahnya sangat besar. Pengembangan ini semakin mengokohkan kemandirian energi ponpes binaan LDII. Tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan Pondok Wali Barokah,” kata Horisworo.

Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri, pembangkit listrik berskala kecil, pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH), telah dikembangkan juga di pabrik teh Jamus di Ngawi.

Pabrik teh peninggalan Belanda sejak 1928 seluas 478 ha itu, semula digarap memakai bahan bakar minyak (BBM) dan kayu bakar.

Kini semuanya mandiri menggunakan listrik PLTMH. Pada 2007, satu unitnya mampu menghasilkan 100 Kwh dengan investasi sebesar Rp 1,7 miliar.

Kemudian dibangun satu unit lagi seharga Rp 900 juta dan menghasilkan 100 Kwh.

Setahun kemudian disusul pembangunan lagi dan mampu menghasilkan 50 Kwh.

 

Sumber : TribunJogja.com

 

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Open chat
Halo, ada yang bisa kami bantu?